1. Ekspor Indonesia Masih Tumbuh, Tapi Tidak Kencang
Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat sekitar US$22,17 miliar, naik tipis sekitar 1% dibanding tahun lalu.
- Ekspor non-migas tetap jadi penopang utama
- Pertumbuhan masih ada, tapi melambat
Artinya:
Pasar ekspor masih jalan, tapi kompetisi makin ketat.
2. Pasar Utama Masih Sama (China, AS, India)
Selama awal 2026, tujuan ekspor terbesar Indonesia masih:
- China
- Amerika Serikat
- India
Ketiganya menyumbang hampir 44% total ekspor non-migas.
Insight:
Kalau mau growth mulai lirik market non-tradisional
3. Ekspor Tetap Stabil Walaupun Dunia Lagi Panas
Di tengah kondisi global yang tidak stabil (geopolitik, ekonomi, dll), ekspor Indonesia masih:
- stabil
- tidak terganggu signifikan
- target 2026 tetap berjalan
Hal ini dikonfirmasi oleh Indonesia Eximbank.
Artinya:
Ekspor itu resilient bahkan saat kondisi global lagi nggak pasti.
4. Sektor Tertentu Lagi Naik Kencang
Produk yang naik:
- Lemak & minyak nabati (CPO, dll) naik signifikan
- Produk unggas mulai tembus pasar global
Contoh:
Ekspor unggas Indonesia sudah tembus 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar di 2026.
Ini menarik karena:
- Indonesia mulai ekspor produk bernilai tambah
- bukan cuma bahan mentah lagi
5. Pemerintah Dorong UMKM Masuk Ekspor
Melalui program dari Kementerian Perdagangan Republik Indonesia:
- UMKM mulai difasilitasi ekspor
- dibuka akses ke market non-tradisional
- networking global diperluas
Artinya:
Ekspor bukan lagi “mainan perusahaan besar”
6. Arah Besar: Ekspor Indonesia Mau Naik Kelas
Yang lagi didorong sekarang:
- hilirisasi (tidak jual bahan mentah)
- produk jadi & value added
- ekspansi ke pasar baru
Contoh nyata:
- nikel diolah dulu sebelum ekspor
- produk pangan mulai ekspor
- UMKM mulai go global
- Ekspor Indonesia masih tumbuh & stabil di 2026
- Pasar global masih terbuka
- Kompetisi makin ketat butuh positioning
- Arah ke depan: value, bukan volume
